ngopi dari journalnya mas riki dhanu :)
Sebagaimana anak kecil, kau memang menarik, sayang. Tingkah manjamu, alih-alih merepotkan, aku justru disenangkan. Bagaimana kau menggelayutkan tangan-tangan mungilmu di leherku, menciumi mukaku. Ah, sungguh kau menyenangkan. Aku mencintaimu…
Sebagaimana anak kecil, kadang kau memang susah ditebak. Kadang kau marah tiba-tiba, kadang kau tiba-tiba bahagia. Di lain waktu kau marah-marah karena cemburu, di waktu lain kau diam membisu, juga karena cemburu. Ah, aku mencintaimu, sayang…
Sebagaimana anak kecil, kau indah. Matamu yang terang, jernih, dan murni. Mata bulat yang dengan luar biasanya bisa menyampaikan apa yang kau ingin sampaikan tanpa perlu kau katakan. Mata cantik yang jika dengan genitnya kau kedip-kedipkan, membuatku tak tahan untuk merangsek memelukmu. Kau tak akan kulepaskan, sampai puas hatiku. Ah, bocah kecilku…
Sebagaimana anak kecil, kau haus pengetahuan. Kau ingin tahu banyak hal. Dan dengan luar biasanya kecerdasanmu menangkapnya. Kau tahu banyak hal, bicara banyak hal, untungnya terdengar menyenangkan. Ah, kicaumu memang indah, sayang…
Tapi sebagaimana anak kecil, kau sering sesuka hatimu. Menangis di tengah malam, padahal aku tahu tak ada yang salah. Kau hanya ingin merasa nyaman di dadaku kan?. Sayangnya, aku tak selalu ada di tiap malam, untuk memelukmu. Ah, aku pun merindukanmu, sayang. Jika rasa rindu menyakitimu, maafkan aku…
Sebagaimana anak kecil, tubuhmu mengeluarkan bau yang menyenangkan. Bau lembut yang aku tak pernah lupa. Aroma yang membuatku justru ingin menyembunyikan mukaku di lehermu. Lalu memanjakan diriku sendiri hingga tertidur disitu. Ah, jika sudah begini, kadang aku lupa, siapa sebenarnya yang ‘anak kecil’ diantara kita?
Sebagaimana anak kecil, yang selalu ingin dibahagiakan, sekaligus membuat orang yang membahagiakanmu merasa lebih bahagia, aku akan memberikan apapun padamu. Aku hanya ingin senyummu itu, sayang. Senyum bahagia yang membuat matamu berbinar, lalu mulutmu mengeluarkan suara tawa renyah manja, dan tanganmu yang siap merangkulku. Lalu jari-jari lentikmu bermain-main pelan di sela-sela rambutku, menjalari mukaku, menjelajahi seluruh tubuhku. Lalu kita berpelukan. Merasa enggan melepaskan.
Sampai kapan? Tak tahu. Aku hanya tahu aku selalu menginginkanmu.
(Women are only children of a larger growth – Lord Chesterfield, Letters, Sept. 1748)
terimakasih yaaaa…. mas riki
Jadi nih Realita sama mimpi dan khayalan guwe berjalan bersamaan. jd sewaktu guwe mau ngerangkai kebelakang, gw ga bisa ngejelasin mana bagian dari khayalan gw… mana bagian dari kenyataan hidup gw *phew*
yah kalo ga ada dia mungkin lebih buruk lg.
hwehehe.. ah kebodohan gw sudah merajalela ke tiap sel abu-abu otak gw, huhhh…uyuhan we aya nu bogoh oge ka urang, geus belegug, telmi, dablong, manja, nyusahkeun, tukang ceurik gawena mewek wae, ogoan… *sigh* dipikir-pikir ko gw ga da bagus2nya ya???
ahhhhh seballllllllll 